Puisi “Pertemuan Masa Depan” Muhammad Alfariezie: Eksperimen Bahasa ala Formalisme Rusia yang Menggetarkan

banner 468x60

PORTAL ASPIRASI– Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Bandar Lampung, kembali mencuri perhatian publik dengan karya puisinya berjudul “Pertemuan Masa Depan” (2025). Puisi ini menarik perhatian bukan hanya karena tema futuristiknya, tetapi karena eksperimen bahasanya yang terinspirasi dari aliran Formalisme Rusia.

Musik kata, pengulangan frasa, dan citraan yang tidak biasa menjadi ciri khas puisi ini. Pembaca diajak untuk merasakan bahasa sebagai pengalaman, bukan sekadar pesan. Dalam bait pembuka, Alfariezie menulis:

banner 336x280

Baik buruk dari beberapa
kata dan juga juga baik buruk
satu dua tingkah pertemuan
sulit terlupa

Pengulangan kata seperti “baik buruk” dan frasa “kata dan juga juga” adalah strategi sadar untuk menciptakan ritme sekaligus membuat pembaca menahan diri dan menelaah struktur bahasa. Ini sesuai dengan konsep defamiliarisasi dari Viktor Shklovsky, yang menekankan bagaimana bahasa dapat dibuat “asing” agar persepsi pembaca segar dan tajam.

Dalam bait kedua, Alfariezie menghadirkan citraan unik:

…sempurna bulan berenang tapi
kadang sebagai penghalang.

Ungkapan “bulan berenang” melanggar logika literal dan menghadirkan gerakan pada benda mati. Pendekatan ini menekankan penyimpangan semantik, sebuah teknik formalisme Rusia yang membuat pembaca berhenti sejenak untuk menikmati keindahan bahasa. Bukan sekadar simbol cinta, “bulan” dalam puisi ini hidup sebagai elemen yang mempengaruhi suasana dan emosi pembaca.

Bait selanjutnya menunjukkan ritme dan musikalitas yang memikat:

Lelap ranjang seperti mencari
tenang di hiburan malam dan
gairah mimpi seperti perawan
mengejar bujang.

Aliterasi bunyi “l” dan “n” menciptakan nuansa lirih dan sensual, menekankan bahwa fokus puisi ada pada suara kata, bukan hanya makna literalnya. Hal ini menguatkan teori Roman Jakobson bahwa fungsi puitis bahasa terletak pada pesan itu sendiri (message for its own sake).

Di bagian penutup, penyair menyisipkan ketegangan bentuk dengan amanat sosial:

Harus tetap terlaksana! Bila
tidak maka bencana.

Kalimat imperatif ini menjadi puncak ritme sekaligus penegasan pesan, mengubah puisi dari refleksi personal menjadi kesadaran kolektif. Struktur ini bergerak dari pribadi ke sosial, tetap menjaga kontrol bentuk dan irama.

Keberanian Alfariezie dalam bermain bahasa membuktikan bahwa puisi tidak hanya tentang “apa yang dikatakan”, tetapi juga tentang “bagaimana kata itu disusun”. “Pertemuan Masa Depan” menghidupkan kembali semangat formalisme Rusia, menunjukkan bahwa bentuk dan bunyi dapat lebih berdaya daripada isi semata.

Sebagai penyair muda, Alfariezie memperlihatkan kematangan estetika, keberanian eksperimen, dan pemahaman mendalam terhadap bahasa. Puisinya menegaskan bahwa sastra dapat membuat pembaca melihat dunia dan bahasa dengan mata baru, di mana kata-kata bukan sekadar alat komunikasi, tetapi medium untuk menggetarkan emosi dan imajinasi.***

banner 336x280