PORTAL ASPIRASI- Sejarah tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya menunggu momen terbaik untuk kembali mekar.
Peringatan Hari Pramuka Tingkat Nasional pada Jambore Nasional XII Tahun 2026 menjadi saksi bisu sebuah momen monumental yang menggetarkan dada: sebuah estafet kepemimpinan yang melintasi rentang waktu empat dekade.
Empat puluh tahun lalu, pada Jambore Nasional IV Tahun 1986, seorang Penggalang Putri asal Kwarran Punggur, Kwarcab Lampung Tengah, Sri Wahyuningsih, berdiri tegap dan gagah menjalankan amanah sebagai Pemimpin Upacara di hadapan Presiden Republik Indonesia, Soeharto.
Empat puluh tahun kemudian, takdir kepemimpinan itu mengetuk pintu yang sama. Pada Jambore Nasional XII Tahun 2026, Farhan Atalah, seorang Penggalang Putra asal Kwarran Trimurjo, Kwarcab Lampung Tengah, melangkah dengan keyakinan penuh memimpin upacara di hadapan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir.
Keistimewaan peringatan tahun ini semakin membuncahkan rasa bangga, sebab baik Pemimpin Upacara maupun Pembina Upacaranya sama-sama menjejajaki akar kebanggaan yang sama: bumi Lampung Tengah.
Bukan Sekadar Kebetulan, Ini Adalah Estafet Nilai
Bagi Gerakan Pramuka, peristiwa ini lebih dari sekadar kebetulan sejarah. Ini adalah bukti nyata dari sebuah estafet pembentukan karakter.
Estafet bukan tentang siapa yang berlari paling lama, melainkan tentang keberanian menerima tongkat amanah, berlari dengan kepenuhan jiwa, dan menyerahkannya kembali dengan penuh kebanggaan kepada generasi berikutnya.
Jika remontada bermakna sebuah kebangkitan besar setelah perjalanan panjang, maka inilah REMONTADA 40 TAHUN. Tongkat kepemimpinan itu telah kembali ke genggaman tunas-tunas muda Lampung Tengah—bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk mengukir kejayaan baru di era yang berbeda.
Obor Motivasi bagi Pengurus, Purna, dan Generasi Penerus
Kisah perjalanan dari Sri Wahyuningsih (yang kini bermukim di Nunggalrejo, Lampung Tengah) hingga Farhan Atalah membawa pesan mendalam dan pembakar semangat bagi seluruh keluarga besar Gerakan Pramuka di mana pun berada.
Bagi Kakak-Kakak Pengurus & Pembina di Semua Tingkatan:
Setiap peluh, waktu, dan dedikasi yang Kakak-Kakak curahkan dalam mendidik adik-adik hari ini adalah investasi masa depan bangsa.
Peristiwa ini adalah bukti nyata bahwa benih karakter, kedisiplinan, dan keteladanan yang Kakak-Kakak tanamkan puluhan tahun lalu akan melahirkan pemimpin-pemimpin tangguh di masa depan.
Jangan pernah lelah menyalakan obor pemanduan!
Bagi Para Purna Kegiatan & Purna Pandu:
Jejak langkah yang pernah ditempuh dalam kegiatan-kegiatan Pramuka—baik yang telah berlalu maupun yang akan datang—tidak pernah sia-sia.
Pengalaman dan nilai Dasa Darma yang telah ditempa adalah modal dasar untuk terus memberi dampak positif dan menginspirasi lingkungan sekitar di bidang profesi masing-masing.
Bagi Generasi Muda & Tunas Bangsa:
Kisah ini adalah panggilan terbuka untuk kalian semua! Jangan pernah ragu untuk bermimpi besar.
Wujudkan cita-cita kalian dengan semangat yang menyala-nyala, kedisiplinan tanpa kompromi, dan integritas tinggi di bidang apa pun yang kalian tekuni—baik di akademik, keolahragaan, seni, teknologi, maupun pengabdian masyarakat.
“Sebab pada akhirnya, Pramuka bukan tentang siapa yang berdiri megah hari ini, tetapi tentang siapa yang siap berdiri lebih kuat dan membawa bangsa ini lebih tinggi setelah kita.”
Mari jaga api semangat ini tetap menyala. Dari Lampung Tengah untuk Indonesia, dari masa lalu menuju masa depan yang gemilang!
Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan.
Salam Pramuka!
Peliput: Kgs. Dedi Miryanto, S.E., M.Si. (Ketua PJ91 Lampung)
Narasumber Catatan Sejarah: Sri Wahyuningsih (Nunggalrejo, Lampung Tengah).***
