PORTAL ASPIRASI- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang jadi solusi peningkatan gizi anak sekolah ternyata belum sepenuhnya dirasakan semua wilayah. Di Pulau Tegal, Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, sebanyak 36 siswa dari tingkat PAUD hingga SMA disebut belum menerima program tersebut.
Kondisi ini langsung menjadi sorotan dari Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Teluk Pandan, Tony Yunizar. Ia menilai pelaksanaan MBG di wilayah kepulauan masih belum merata.
“Seharusnya mereka bisa di-backup oleh SPPG yang ada. Jumlahnya hanya 36 siswa, dari PAUD sampai SMA,” kata Tony, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, jumlah siswa yang belum menerima MBG sebenarnya tidak banyak, apalagi seluruh peserta didik berada dalam sistem sekolah satu atap. Karena itu, ia mempertanyakan alasan program tersebut belum menyentuh Pulau Tegal.
Tony mengatakan anak-anak di wilayah kepulauan juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan program pemerintah, termasuk MBG.
“Mereka juga punya hak yang sama. Pondok di kampung saja secara aturan wajib dikasih,” ujarnya.
Ia bahkan membandingkan kondisi Pulau Tegal dengan Pulau Pahawang yang disebut sudah lebih dulu menerima program MBG.
“Pulau Pahawang bisa, kenapa Pulau Tegal tidak bisa?” katanya.
Menurut Tony, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ketimpangan distribusi program nasional di daerah kepulauan. Ia khawatir muncul kesan bahwa anak-anak di wilayah terpencil kurang mendapatkan perhatian.
Karena itu, pihaknya meminta Pemerintah Kabupaten Pesawaran, DPRD, hingga Badan Gizi Nasional (BGN) segera turun tangan agar para siswa di Pulau Tegal bisa segera menerima MBG.
“Harapannya ada perhatian dan dorongan dari pihak Pemda, Ketua DPRD dan pihak terkait agar anak-anak di Pulau Tegal yang memiliki hak sama bisa menerima Program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.
Ia juga menegaskan keterlambatan realisasi MBG tidak boleh terus terjadi karena program tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan gizi dan hak dasar anak sekolah.
“Jangan sampai anak-anak kepulauan merasa dianaktirikan dalam program nasional,” tandasnya.***
