APTISI Bersatu Perjuangkan PTS, Rakernas I di Lampung Jadi Momentum Bersejarah

banner 468x60

PORTAL ASPIRASI- Rapat Kerja Nasional atau Rakernas I Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) digelar di Hotel Grand Mercure, Bandar Lampung, Minggu (23/8/2026).

Rakernas I APTISI tersebut menjadi momentum kebangkitan perguruan tinggi swasta di Indonesia dengan mengusung semangat sinergi, kolaborasi, dan penguatan peran PTS dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

banner 336x280

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. membuka kegiatan tersebut dengan menegaskan arah baru pendidikan tinggi di Indonesia.

Menurut Prof. Brian, salah satu peluang besar yang dapat menjadi daya tarik bagi perguruan tinggi swasta adalah program lulusan perguruan tinggi yang akan langsung mendapatkan peluang bekerja ke luar negeri.

“Program lulusan perguruan tinggi langsung ke luar negeri sampai 300 ribu orang akan menjadi daya tarik besar bagi PTS,” tegasnya.

Prof. Brian juga menekankan pentingnya sertifikasi keahlian bagi lulusan perguruan tinggi sebagai salah satu syarat mutlak dalam menghadapi persaingan dunia kerja.

“Biaya pendidikan memang lebih tinggi, tapi kami akan melibatkan perbankan untuk membantu pembiayaan melalui asuransi pendidikan yang ringan bagi calon mahasiswa,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Brian memberikan apresiasi kepada APTISI atas kontribusinya terhadap dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

“Alhamdulillah semua dimulai oleh APTISI. Saya akan mengimbau kepala daerah untuk bekerjasama membantu lulusan PTS. Selamat Rakernas, terima kasih atas pengabdian dan kontribusinya,” ucapnya.

Rakernas I APTISI juga dihadiri Anggota Komisi X DPR RI, Prof. Dr. Furtasan Ali, S.E., S.Kom., M.M.

Dalam kesempatan itu, Furtasan Ali mengatakan pihaknya akan terus berjuang membantu perkembangan perguruan tinggi swasta di Indonesia, salah satunya melalui pembahasan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional atau RUU Sisdiknas.

Ia menegaskan pentingnya regulasi yang berpihak kepada perguruan tinggi swasta.

“PTS tidak boleh terus dipandang sebagai pelengkap. Dengan adanya BPOPTS, kita ingin ada kepastian regulasi dan dukungan yang setara dengan PTN,” ujarnya.

Furtasan Ali juga menekankan agar Undang-Undang Sisdiknas memberikan ruang afirmasi bagi perguruan tinggi swasta.

“Lebih dari 60 persen mahasiswa Indonesia ada di PTS. Jadi UU Sisdiknas harus benar-benar menguntungkan PTS, bukan sekadar formalitas,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua APTISI Pusat Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si. menegaskan bahwa sinergi menjadi salah satu kunci penting dalam memperkuat perguruan tinggi swasta di Indonesia.

“Sinergi kampus dan lulusan akan mewujudkan kampus berdampak menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Prof. Budi juga mengumumkan langkah strategis APTISI ke depan dengan rencana mendirikan sekolah kepemimpinan perguruan tinggi.

“Kami akan mendirikan sekolah kepemimpinan perguruan tinggi, sebagai wadah mencetak pemimpin akademik yang visioner,” ujarnya.

Ketua Organizing Committee atau OC sekaligus Ketua APTISI Lampung, Dr. Ir. Firmansyah Y.A. Alfian, MBA., M.Sc., menyampaikan harapan besar atas pelaksanaan Rakernas I APTISI yang digelar di Provinsi Lampung.

“Lampung menjadi tuan rumah Rakernas I, semoga ini menjadi titik awal kebangkitan PTS di Indonesia,” katanya.

Firmansyah menekankan bahwa kekuatan perguruan tinggi swasta di Indonesia sangat besar. Karena itu, menurutnya, seluruh PTS perlu memperkuat persatuan dan sinergi.

“Kalau kita mau maju syaratnya harus bersatu, karena lebih dari 4.000 PTS dengan mahasiswa terbanyak dari PTN. Pemerintah wajib memberi perhatian cukup bagi PTS,” ujarnya.

Selain membahas persoalan pendidikan tinggi, Rakernas I APTISI juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. (HC) Zulkifli Hasan, S.E., M.M., menyoroti perjuangan pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan.

“160 juta petani di Indonesia harus terhormat dan kita harus berpihak pada mereka. Tidak boleh ada tawar menawar,” tegas Zulhas.

Ia juga menyampaikan sejumlah capaian dalam penyederhanaan regulasi yang berkaitan dengan sektor pangan.

“Selama 22 bulan saya selesaikan 35 regulasi, 145 aturan menjadi 3. Dampaknya pupuk terserap 9,5 juta ton, naik 58 persen dari tahun sebelumnya,” jelasnya.

Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani, S.Sos., M.Sc., menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam pengelolaan sektor pariwisata.

“Semua potensi pariwisata tidak ada artinya jika tidak ada peran perguruan tinggi untuk meningkatkan SDM dalam pengelolaan wisata,” katanya.

Zita juga menyoroti peran APTISI dalam memperkuat kebersamaan dan memperjuangkan kepentingan perguruan tinggi swasta di Indonesia.

“Mengurus PTS tidaklah mudah, tapi karena adanya APTISI yang kompak akan membantu semua kegiatan. Mohon ini disampaikan ke Presiden, agar perhatian terhadap PTS semakin besar,” ujarnya.

Rakernas I APTISI di Lampung tersebut dihadiri Anggota Komisi X DPR RI lainnya, Rycko Menoza, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Dr. Marindo Kurniawan, sejumlah pimpinan perguruan tinggi, serta sekitar 500 peserta Rakernas yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia.

Kehadiran ratusan peserta dari berbagai daerah menjadikan Rakernas I APTISI di Lampung sebagai momentum penting untuk memperkuat persatuan perguruan tinggi swasta, memperjuangkan kebijakan yang lebih berpihak kepada PTS, serta membangun sinergi nasional dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi menuju Indonesia Emas 2045.***

banner 336x280

News Feed