ASDP Benahi Merak dan Bakauheni, Sistem Akses Digital Siap Diterapkan

banner 468x60

PORTAL ASPIRASI- PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mempercepat transformasi layanan kepelabuhanan melalui implementasi program sterilisasi di enam pelabuhan utama. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan sistem penyeberangan yang lebih aman, tertib, modern, dan terintegrasi dengan teknologi digital.

Memasuki pekan ketiga Juli 2026, ASDP menggelar sosialisasi intensif di Pelabuhan Merak, Bakauheni, Ketapang, Gilimanuk, Kayangan, dan Lembar sebagai tahapan akhir sebelum pelaksanaan soft launching program sterilisasi pelabuhan yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 20 Juli 2026.

banner 336x280

Program tersebut merupakan bagian dari transformasi operasional ASDP dalam memperkuat pengelolaan kawasan pelabuhan sebagai objek vital transportasi nasional. Berbagai teknologi diterapkan, mulai dari sistem registrasi digital, Face Recognition (FR), pengendalian akses berbasis zonasi, hingga One Gate System guna menciptakan tata kelola pelabuhan yang lebih aman, transparan, dan akuntabel.

Melalui transformasi ini, ASDP tidak hanya berupaya meningkatkan keamanan kawasan pelabuhan, tetapi juga membangun budaya operasional yang disiplin, efisien, serta mengedepankan aspek keselamatan bagi seluruh pengguna jasa penyeberangan.

Implementasi sterilisasi pelabuhan mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 Tahun 2021 tentang Zonasi Kawasan Pelabuhan Penyeberangan, serta berbagai regulasi terkait pengamanan objek vital transportasi nasional.

Direktur Operasional dan Transformasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Rio Lasse, mengatakan sterilisasi pelabuhan merupakan fondasi penting dalam mewujudkan operational excellence yang mampu meningkatkan keandalan layanan penyeberangan nasional.

Menurutnya, program tersebut bukan sekadar mengatur akses keluar masuk pelabuhan, tetapi menjadi transformasi menyeluruh dalam pengelolaan operasional.

“Kami ingin memastikan setiap orang, kendaraan, dan aktivitas di kawasan pelabuhan dapat teridentifikasi, terverifikasi, dan termonitor dengan baik. Dengan pengelolaan akses berbasis digital melalui Face Recognition, zonasi yang jelas, serta One Gate System, kami memperkuat keamanan objek vital sekaligus meningkatkan keandalan operasi dan kualitas pelayanan. Pada akhirnya, pelabuhan yang tertib akan melahirkan operasi yang semakin aman, andal, dan memberikan pengalaman terbaik bagi masyarakat pengguna jasa,” ujar Rio Lasse.

Penataan Pelabuhan Terus Dipercepat

Di Pelabuhan Merak, berbagai persiapan terus dilakukan selama dua pekan terakhir. Bersama regulator dan para pemangku kepentingan, ASDP rutin menggelar patroli gabungan, sosialisasi sterilisasi, hingga penataan kawasan pelabuhan agar hanya pihak yang berkepentingan yang dapat mengakses area operasional.

Penataan juga dilakukan terhadap pedagang asongan melalui pendataan ulang, penentuan lokasi berjualan, serta pemberian identitas resmi. Selain itu, kawasan sekitar Masjid Keramat turut ditata agar lingkungan pelabuhan menjadi lebih tertib, aman, dan representatif.

Optimalisasi One Gate System juga diperkuat melalui pemasangan CCTV, pagar pembatas, rambu-rambu, penerangan, hingga pos pengawasan sebagai bagian dari sistem keamanan pelabuhan yang lebih modern.

Sementara itu, di Pelabuhan Bakauheni, ASDP terus mematangkan kesiapan implementasi bersama regulator, aparat keamanan, operator kapal, dan seluruh stakeholder.

Persiapan difokuskan pada penyelesaian infrastruktur pendukung, pemasangan media sosialisasi dan rambu sterilisasi, pendataan pengguna berbasis Face Recognition (FR), penataan jalur kendaraan, serta penguatan sistem pengawasan terintegrasi yang didukung teknologi digital, CCTV, dan vehicle monitoring.

Seluruh tahapan tersebut dilakukan guna memastikan implementasi program berjalan efektif, konsisten, dan mampu menghadirkan operasional pelabuhan yang semakin aman, tertib, modern, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, menegaskan bahwa tahapan sosialisasi menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman bersama sebelum program diberlakukan secara penuh.

“Transformasi sebesar ini hanya dapat berjalan dengan baik apabila seluruh stakeholder memiliki pemahaman dan komitmen yang sama. Sterilisasi pelabuhan bukan untuk membatasi aktivitas masyarakat, melainkan membangun budaya baru yang mengedepankan keselamatan, keamanan, kedisiplinan, dan pelayanan prima. Dengan kolaborasi regulator, operator kapal, aparat keamanan, dan seluruh mitra kerja, kami optimistis implementasi sterilisasi akan menjadi fondasi terciptanya pelabuhan penyeberangan yang semakin modern, efisien, dan berstandar internasional demi mendukung konektivitas nasional,” ujar Windy.

Melalui program ini, ASDP berharap mampu menghadirkan layanan penyeberangan yang semakin profesional, aman, dan berstandar internasional, sekaligus memperkuat konektivitas transportasi antarpulau di Indonesia.***

banner 336x280