PORTAL ASPIRASI- Buku ‘Puisi 68″ karya Isbedy Stiawan ZS telah terbit. Ini buku ke tiga di tahun 2026, setelah “Kenduri Sumatera” dan kumpulan esai “Noel di Jalur Whoosh, dan Catatan Lain”.
Menurut Isbedy, sastrawan produktif asal Lampung ini, “Puisi 68” diluncurkan untuk merayakan hari lahirnya ke 68 pada 5 Juni 2026.
“Buku ini menghimpun 68 puisi ditulis 2025-2026. Kali ini dilengkapi foto keluarga dan catatan dari sang istri, Fitri Angraini sebagai epilog,” ujar Isbedy yang dijuluki Paus Sastra Lampung oleh H.B Jassin, Kamis 11 Juni 2026.
Buku “Puisi 68” ini diterbitkan oleh Lampung Literature, penerbit yang pernah meluncurkan “Menungguku Tiba” karya Isbedy pada 2025. Buku tersebut pernah didiskusikan di Unpad Bandung.
Puisi 68″, kata pengampu Lamban Sastra dan penggagas komunitas Ruang Kreatif Paus Sastra Lampung ini, didesain penampilannya oleh Ulil Amri MB (sampul) dan isi ditangani Chandra Aria Wicaksono.
Isbedy menambahkan, buku puisi terbarunya ini direncanakan untuk bisa diluncurkan dan diskusi di PDS H.B. Jassin. “Saya sedang coba ajukan kerja sama ke Dispursip/PDS HB Jassin. Harapan saya bisa difasilitasi,” katanya.
Selain itu, ia juga berencana buku “Puisi 68” ini didiskusikan di Lampung, juga pembacaan puisi. “Ingin mengulang kesuksesan saat baca puisi ‘Negeri Sepatu’ tahun 1999 silam. Tentu saya juga akan melibatkan pembaca puisi lain dan penata tampil yang digarap teaterwan,” lanjutnya.
Isbedy berharap, program ini bisa diwujudkan. Oleh karena itu, ia juga menginginkan dukungan semua pihak.
“Ini cara saya menjaga dan menyemarakkan panggung pertunjukan, khusnus baca puisi oleh penyair Lampung,” ungkapnya.
Ini kata Fitri
Dalam epilog yang ditulis Fitri Angraini, S.S., M.Pd., sang istri, memberi testimoni bahwa sastra bagi Isbedy merupakan ruh yang melekat di jiwanya. Jika orang “normal” melakukan perjalanan membawa oleh-oleh. Maka oleh-oleh dari Isbedy itu adalah puisi. Ketika berjalan apalagi berjalan ke tempat yang belum ia datangi maka di situ pula akan mengalir puisi-puisi indah, puisi-puisi yang butuh perenungan.
“Konsisten berkarya membuatnya tetap produktif di usianya saat ini. Saya senantiasa memberikan “PR” untuknya, minimal dalam setahun 2 (dua) buku sastra harus terbit. Dan Isbedy sangat disiplin dalam hal waktu. Apapun itu wajib ontime. Mengerjakan tugas pun disiplin,” kata pegiat sastra ini.
Lebih lanjut, direktur Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS dan penerima manfaat bantuan Indonesiana 2025 ini, saya dan puisi Isbedy adalah dua dunia yang berbeda. Sebagai Isbedy ia adalah suami saya, dan sebagai penyair ia tak sepenuhnya “milik saya”. Biarlah puisinya masuk ke jiwa dan pikiran saya sebagai puisi dari seorang penyair.
“Kadang, diam-diam dan secara sembunyi saya menikmati puisi-puisinya, walau sebenarnya ia menulis puisi tentang diri kami — keluarga/kerabat — tetapi puisinya bukan lagi mengisahkan kami melainkan untuk umum.
“Siapa pun akan sama merasakan, menikmati sebagai suara lain dari diri ini.”
Pengajar di perguruan tinggi Islam ini mengakui, tidak semua puisi dalam buku ini pernah dia baca atau telah dinikmati.
Saya percaya, lanjut ibu dari Dzafira Adeliaputri Isbedy, penyair Isbedy akan selalu menulis tentang hal-hal kecil untuk sesuatu yang besar. Puisi-puisinya justru sering saya baca dari laman Facebook-nya yang kadang ia tulis langsung di sana atau yang dia ambil dari file catatannya.
“Diam-diam dan tanpa komentar, bahkan saya minim memberi like (jempol). Bukan berarti saya asing dengan puisinya itu, atau tak memberi apresiasi. Semata saya ingin selalu memberi jarak dari puisi-puisinya, namun dekat dengan dirinya,” tulis Fitri Angraini.***
