PORTAL ASPIRSI- Perbandingan gaya kepemimpinan kembali menjadi sorotan di Lampung. Di tengah persoalan banjir yang terus berulang, publik mulai menilai pendekatan para pemimpin dalam merespons langsung keluhan warga.
Nama Eva Dwiana kerap menjadi perbincangan, terutama terkait cara berinteraksi dengan masyarakat. Sebagian warga menilai pendekatannya kurang membangun kedekatan emosional di tengah situasi krisis yang membutuhkan empati dan kehadiran nyata pemerintah.
Sebaliknya, Rahmat Mirzani Djausal dinilai menghadirkan pendekatan yang lebih sederhana namun efektif. Dalam beberapa kesempatan blusukan ke wilayah terdampak banjir, ia tampil tanpa seremoni berlebihan. Interaksi yang dibangun lebih mengedepankan dialog langsung dengan warga.
Alih-alih membawa program yang bersifat simbolik, pendekatan ini justru membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan utama yang mereka hadapi. Respons warga pun terlihat lebih cair, dengan suasana yang santai namun tetap substansial.
Salah satu momen yang menjadi perhatian publik terlihat dalam unggahan akun TikTok *Cerita Bapak* pada 14 April 2026. Dalam interaksi tersebut, warga secara langsung mengungkap akar persoalan banjir yang selama ini mereka rasakan.
Permasalahan mendasar itu bukan sekadar intensitas hujan, melainkan minimnya infrastruktur dasar seperti drainase. Di beberapa kawasan permukiman, saluran air bahkan tidak tersedia, sehingga air hujan tidak memiliki jalur pembuangan yang memadai.
Temuan ini mempertegas bahwa solusi banjir tidak cukup hanya dengan kebijakan jangka pendek atau program populis. Dibutuhkan pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, dimulai dari infrastruktur sederhana namun krusial.
Perbedaan pendekatan kepemimpinan ini pada akhirnya membentuk persepsi publik. Di tengah krisis, masyarakat cenderung menilai bukan hanya dari kebijakan yang diambil, tetapi juga dari cara pemimpin hadir, mendengar, dan merespons.
Banjir di Lampung hari ini bukan sekadar persoalan alam. Ia menjadi ujian kepemimpinan—siapa yang benar-benar hadir untuk memahami, dan siapa yang masih terjebak pada simbol dan pencitraan.***
