PORTAL ASPIRASI- Gejolak konflik di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan dampaknya hingga ke sektor kebutuhan kendaraan bermotor di Indonesia. Kenaikan harga oli kendaraan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir disebut berkaitan dengan terganggunya distribusi base oil atau bahan baku oli di kawasan Selat Hormuz.
Situasi ini muncul di tengah meningkatnya tensi konflik Iran versus Israel yang memicu kekhawatiran terhadap jalur perdagangan energi dunia, termasuk distribusi bahan baku industri pelumas.
Salah seorang sales marketing produk oli di Indonesia yang identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa perusahaan tempatnya bekerja telah menaikkan harga produk hingga dua kali dalam beberapa bulan terakhir.
“Penjualan sekarang susah meski sudah ke pelosok-pelosok. Kemarin naik yang pertama sekitar Rp7 ribu, bulan kemarin naik Rp6 ribu lagi. Nah Juni nanti kemungkinan naik lagi, tapi belum tahu nominalnya,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya terjadi pada satu merek oli tertentu, melainkan juga dialami sejumlah produk pelumas lain di pasaran.
Ia menyebut salah satu faktor utama kenaikan harga berasal dari tersendatnya pasokan base oil yang diduga tertahan akibat situasi di Selat Hormuz.
“Karena base oil-nya ditahan di Selat Hormuz,” katanya.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis dunia yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar internasional. Jalur ini menjadi salah satu titik vital distribusi minyak mentah dan produk turunannya.
Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut membuat distribusi logistik global terganggu, termasuk bahan baku industri otomotif dan pelumas.
Di sisi lain, kondisi ini turut menambah kekhawatiran masyarakat terhadap tekanan ekonomi global yang berdampak pada kebutuhan sehari-hari.
Selain kenaikan harga oli, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dinilai semakin membebani sektor perdagangan dan distribusi barang impor.
Situasi tersebut memunculkan sorotan terhadap langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Sejumlah pihak berharap pemerintah dapat memperkuat strategi diplomasi ekonomi serta menjaga rantai pasok kebutuhan industri agar gejolak global tidak semakin membebani masyarakat dan pelaku usaha di daerah.***



















