PORTAL ASPIRASI- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Kabupaten Lampung Selatan menggelar forum diskusi bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan terkait pengembangan sektor eduwisata. Kegiatan berlangsung di Aula Home Stay Lamban Queen, Desa Maja, Kecamatan Kalianda, Jumat (3/7/2026).
Forum tersebut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan Dr. I Nyoman Setiawan, S.E., M.M., Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Syaifuddin, S.E., M.IP., Ketua DPD JWI Lampung Selatan Zul Kenedy, beserta jajaran pengurus JWI Lampung Selatan.
Dalam kesempatan itu, Ketua DPD JWI Lampung Selatan Zul Kenedy menyampaikan sejumlah gagasan mengenai pengembangan sektor eduwisata kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
“Saat kita menyaksikan pelaksanaan program ini, hal yang paling penting untuk kita perhatikan adalah siapa pihak yang bertanggung jawab, dan siapa yang benar-benar memahami serta menguasai jalannya program yang sudah ada. Karena sudah banyak lokasi eduwisata yang mulai berjalan seperti di Trimomukti, Fajar Baru, kawasan pesisir Ketapang, dan destinasi wisata lainnya, kita harus memastikan pengelolanya memahami tujuan edukasi, menguasai data dan materi, serta mampu mengoordinasikan agar program tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujar Zul Kenedy.
Menurutnya, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan agar pengembangan eduwisata di Kabupaten Lampung Selatan dapat berjalan lebih optimal.
“Pertama, terkait kejelasan pengelolaan. Kita perlu menetapkan satu tim koordinator yang benar-benar memahami dan menguasai seluruh program sehingga tidak ada lagi ketidakjelasan siapa yang memegang kendali,” katanya.
Ia melanjutkan, langkah kedua adalah menyatukan berbagai program yang selama ini berjalan secara terpisah.
“Kita susun rute eduwisata yang terpadu sehingga wisatawan maupun sekolah dapat mengunjungi beberapa lokasi sekaligus dengan tema yang saling berkesinambungan,” jelasnya.
Langkah berikutnya adalah menyusun materi edukasi yang baku sesuai dengan jenjang pendidikan agar setiap kunjungan memberikan nilai tambah bagi proses pembelajaran peserta didik.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pembenahan akses jalan, fasilitas umum, serta peningkatan kenyamanan di setiap lokasi eduwisata.
“Kelima, meningkatkan kemampuan pengelola melalui pelatihan dan sertifikasi, serta memperluas kerja sama dengan sekolah dan dinas terkait,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, Zul Kenedy juga mengungkapkan bahwa JWI Lampung Selatan akan menjadi pelaksana kegiatan Lomba Lintas Wisata Alam Gunung Rajabasa dan Krakatau yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
“Dengan langkah-langkah yang terarah ini, saya yakin eduwisata Lampung Selatan akan menjadi lebih teratur, bermanfaat, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan Dr. I Nyoman Setiawan menyampaikan bahwa pemerintah daerah masih terus menyempurnakan konsep pengembangan eduwisata agar memiliki kemasan yang tepat dan mudah dipahami masyarakat.
“Kita juga harus menjawab keraguan yang muncul, apa sebenarnya ciri yang membuat sebagian orang menganggap program ini sekadar isu atau hoaks. Justru di sinilah pentingnya kemasan yang tepat untuk program ini, hal yang sampai saat ini masih terus kita cari dan benahi. Dalam menyusunnya, kami juga mendengarkan berbagai masukan dari rekan-rekan yang bergerak di bidang pariwisata,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Dinas Pariwisata dan Kebudayaan memiliki peran sebagai fasilitator sekaligus regulator, bukan sebagai pelaksana utama program.
“Perlu kita sadari bersama, Dinas Pariwisata bukanlah pelaku utama atau pelaksana tunggal, melainkan berperan sebagai fasilitator sekaligus pengatur atau regulator. Peran inilah yang harus ditegakkan dengan jelas agar program tidak menimbulkan kesalahpahaman dan benar-benar terpercaya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Nyoman juga menilai bahwa keberhasilan program eduwisata sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi masyarakat.
“Apakah masyarakat benar-benar dilibatkan atau hanya sekadar menjadi objek saja? Keberhasilan eduwisata sangat bergantung pada seberapa besar dukungan dan keikutsertaan warga setempat. Kita juga harus menghindari segala hal yang bernuansa politik praktis serta menjauhi kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan hukum yang nantinya justru mendatangkan masalah, kerugian, maupun dampak buruk bagi program ini sendiri,” pungkasnya.***














