Kontroversi Lomba Video 1 Menit IJP Lampung: Guru dan Siswa SMK Protes, Aturan Dilanggar

banner 468x60

PORTAL ASPIRASI– Lomba Video 1 Menit yang digelar Ikatan Jurnalis Pemprov Lampung (IJP) pada Senin (15/9/2025) menuai protes keras dari guru dan siswa SMK Broadcasting Bandar Lampung. Mereka menilai penyelenggaraan lomba tersebut melanggar aturan dasar, bahkan mencederai semangat literasi yang disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam sambutan yang dibacakan Kadis Kominfo Ganjar Jationo.

Dalam sambutan tertulis, Gubernur memberikan apresiasi kepada jurnalis atas perannya menjaga nurani literasi masyarakat dan menangkal hoaks. Namun, guru dan murid SMK menilai lomba yang digagas IJP justru bertolak belakang dengan prinsip tersebut.

banner 336x280

Protes Guru dan Siswa

Wahyu Widodo, guru perfilman SMK dan alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Jogja), menyoroti pelanggaran ketentuan lomba. “Lomba ini tidak bermutu karena juara satunya jelas melanggar aturan. Apapun kualitasnya, aturan harus jadi prioritas, apalagi pesertanya anak sekolah yang sedang belajar Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Agama,” ujarnya tegas.

Sementara itu, Salma Alika, mewakili siswa SMK, menambahkan, durasi video juara satu melebihi batas ketentuan. “Video juara satu berdurasi 1 menit 16 detik, padahal aturan jelas 1 menit. Masih ada banyak video peserta yang patuh aturan tapi kalah. Ini jelas merugikan peserta yang jujur,” katanya.

Ia juga menjelaskan adanya ketidakadilan dalam penilaian juri. Video SMK-nya pernah ditegur karena durasinya lebih dari 1 detik, dan mereka menerima teguran itu. “Tapi video juara justru lebih parah pelanggarannya. Ini membuat kami kecewa, karena lembaga pers yang seharusnya menjadi panutan pun melanggar aturan sendiri,” tambahnya.

Juri Senior Terlibat, Tapi Kontroversi Tetap Berlanjut

Dari sesi pengenalan dewan juri, salah satu juri lomba merupakan jurnalis senior TVRI. Meski melibatkan figur berpengalaman, kontroversi tetap tidak terelakkan. Guru dan siswa menilai hal ini mencoreng dunia literasi, terutama bagi peserta pelajar yang menanamkan nilai kejujuran dan disiplin sejak dini.

Kekecewaan ini memunculkan pertanyaan besar tentang kredibilitas lomba yang digagas lembaga pers. Para peserta menegaskan, partisipasi mereka bukan semata untuk menang, tetapi juga untuk menegakkan amanah pendidikan dan integritas.

Dampak dan Tuntutan

Guru dan siswa SMK meminta IJP Lampung meninjau kembali hasil lomba dan memperbaiki prosedur penjurian agar lebih transparan dan adil. Mereka juga menekankan pentingnya penegakan aturan, terutama dalam kegiatan yang melibatkan anak-anak dan pelajar.

Protes ini menjadi sorotan bagi masyarakat dan dunia pendidikan, menunjukkan bahwa literasi dan kejujuran dalam lomba kreatif harus dijaga, terutama oleh lembaga yang menjadi panutan pers.***

banner 336x280