Muhammad Alfariezie Hadirkan Kritik Sosial Lewat Puisi Republik Ringkih

banner 468x60

PORTAL ASPIRASI– Penyair Muhammad Alfariezie kembali menarik perhatian publik melalui puisi berjudul Melahirkan Republik Asyik Bernyanyi. Karya ini menyoroti kondisi bangsa yang lahir dalam situasi sarat masalah, namun masyarakatnya cenderung permisif dan pasif. Puisi tersebut sekaligus menjadi kritik halus terhadap perilaku kolektif dan politik sosial di Indonesia.

Puisi Alfariezie memulai kritiknya dengan metafora kuat: “Ibu yang sedang sakit melahirkan republik.” Kalimat ini menggambarkan bahwa negeri ini sejak awal lahir tidak dalam kondisi ideal, tetapi sudah terbebani masalah sosial, pendidikan, dan kepemimpinan. Kesadaran terhadap kondisi ini justru menjadi sorotan utama penyair, karena masyarakat tahu adanya ketidakadilan dan kebohongan, namun lebih memilih diam.

banner 336x280

“Puisi ini menyentil kepasifan masyarakat. Kita paham kenyataan menyakitkan, tapi tetap menikmati sambil bernyanyi,” ungkap Muhammad Alfariezie saat mempresentasikan karyanya dalam diskusi sastra di Jakarta, Jumat (20/12/2025). Ia menekankan bahwa kritik dalam puisinya bukan menyasar individu atau kelompok tertentu, melainkan sistem dan sikap kolektif. Kalimat “Kita tersandera! Bukan oleh seseorang atau golongan” menegaskan bahwa penyair menyoroti kebiasaan menunggu dan tidak bertindak, meski menyadari realita yang retak.

Selain kritik sosial, puisi ini juga memotret sikap masyarakat yang terlalu nyaman dalam keheningan. Aktivitas berpikir, mengamati, dan bahkan berkomentar digambarkan sebagai pengganti tindakan nyata. Bahkan doa pun terasa enggan, menandakan kepasrahan yang menggantikan tanggung jawab moral. Dengan kata lain, puisi ini menyoroti dilema kolektif: mengetahui kebenaran tetapi tidak bertindak untuk perubahan.

Karya ini juga menghadirkan pesan penting bagi generasi muda dan pembaca sastra kontemporer. Alfariezie menekankan bahwa kemajuan republik bukan hanya soal kepintaran individu, tetapi juga keberanian kolektif untuk bergerak. Menikmati kenyataan yang retak sambil “asyik bernyanyi” hanyalah simbol dari stagnasi sosial dan politik yang membelenggu pertumbuhan bangsa.

Melalui Melahirkan Republik Asyik Bernyanyi, Muhammad Alfariezie berhasil mengubah eksklusifitas sastra menjadi medium propaganda moral, bukan politik partisan. Puisi ini menjadi pengingat bahwa krisis bangsa tidak selalu terlihat dari kegaduhan publik, melainkan dari diam yang dinikmati bersama. Sebagaimana ia menegaskan, republik akan terus lahir—namun pertumbuhannya akan tertahan selama masyarakat lebih memilih nyaman daripada bertindak.

Karya ini mendapat respons positif dari komunitas sastra dan akademisi, yang memuji kemampuan Alfariezie dalam memadukan kritik politik, refleksi sosial, dan estetika sastra dalam satu rangkaian puisi yang padat makna. Puisi ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran kolektif pembaca akan tanggung jawab mereka terhadap negara dan masyarakat.***

banner 336x280