Muhammad Alfariezie, Penyair Muda Lampung yang Menggugat Doa dan Materialisme

banner 468x60

PORTAL ASPIRASI– Muhammad Alfariezie, penyair muda asal Bandar Lampung, kembali menarik perhatian publik dengan puisinya yang berjudul *Menggapai Jodoh Tuhan*. Karya ini menghadirkan refleksi mendalam mengenai relasi manusia dengan Tuhan, doa, takdir, dan eksistensi manusia, tanpa terjebak dalam bentuk khotbah religius.

Dalam puisinya, Alfariezie menyajikan pertanyaan teologis yang sederhana namun menggugah: “Dari ingin yang enggak pernah sampai, apakah Tuhan ingin selalu kita menggapai?” Baris ini membuka diskusi tentang perbedaan antara objek doa dan subjek doa. Penyair menunjukkan bahwa manusia cenderung fokus pada hasil atau apa yang diminta, tetapi jarang menilik diri sendiri sebagai subjek yang sedang dibentuk dalam proses doa.

banner 336x280

Selain itu, puisi ini mengandung kritik terhadap spiritualitas material. Simbol sederhana seperti “jodohmu harus dia yang berkendara Toyota” menjadi kritik terhadap kecenderungan manusia yang membungkus doa dengan keinginan materi dan status sosial. Alfariezie menekankan bahwa doa tidak bisa dijadikan jalan pintas untuk mendapatkan kemapanan atau keberhasilan material. Ia menulis, “memohonlah jodohmu orang yang tidak pernah menyerah sehingga sanggup membeli mobil mewah,” yang menggarisbawahi pentingnya usaha, ketekunan, dan proses dalam mencapai tujuan hidup.

Puisi ini juga menegaskan konsep Tuhan sebagai Maha Pemberi dan Maha Penyayang, tetapi bukan dalam pengertian pengabul instan. Tuhan digambarkan sebagai pendidik eksistensial yang membimbing manusia melalui kegagalan, waktu, dan pengalaman hidup. Hal ini menegaskan pentingnya ikhtiar manusia, bahwa usaha tanpa iman kehilangan makna, dan iman tanpa usaha tidak membawa perubahan yang substansial.

Alfariezie memperluas refleksi ini melalui metafora alam: “Tuhan tidak hanya mencipta satu bunga maka kupu-kupu bebas berusaha.” Baris ini menegaskan ide teologi kebebasan, di mana manusia diberikan ruang untuk berupaya dan memilih dalam kehidupan, sementara Tuhan menyediakan banyak kemungkinan. Takdir tidak dipahami sebagai garis mati yang sudah ditentukan sepenuhnya, tetapi sebagai peluang untuk menemukan makna melalui usaha dan pilihan manusia sendiri.

Secara keseluruhan, *Menggapai Jodoh Tuhan* bukan sekadar puisi religius biasa. Karya ini menjadi kritik terhadap doa yang berorientasi pada hasil instan, materialisme yang disakralkan, dan spiritualitas yang dangkal. Muhammad Alfariezie menekankan bahwa doa sejati adalah proses transformasi diri, bukan sekadar meminta atau memperoleh. Puisi ini juga menunjukkan bahwa sastra tetap menjadi medium yang relevan untuk menyampaikan refleksi teologis, membangun kesadaran, dan menghadirkan ruang dialog kritis antara manusia dan Tuhan, khususnya di tengah kehidupan modern yang serba cepat.***

banner 336x280