PORTAL ASPIRASI – Perdebatan mengenai kepulangan Shin Tae-yong ke Timnas Indonesia kembali mencuat. Baru-baru ini, Efan atau Effendi Sia’ahan, pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB) Biru Alap-Alap asal Bandar Lampung, angkat suara menanggapi komentar kontroversial Bung Towel terkait isu tersebut.
Dalam sebuah program televisi beberapa hari lalu, Bung Towel menyatakan bahwa STY bukanlah sosok yang tepat untuk kembali menangani Timnas Indonesia menggantikan Patrick Kluivert. Ia menyinggung pengalamannya di klub Ulsan HD, di mana meskipun memiliki skuat kuat, Shin Tae-yong dikabarkan dipecat karena masalah komunikasi. Bung Towel menutup pernyataannya dengan nada sinis, “Please deh…” mengenai permintaan sebagian penggemar agar STY kembali ke Indonesia.
Efan menanggapi pernyataan itu dengan memberikan perspektif berbeda. Menurutnya, memang benar bahwa Indonesia tidak perlu memaksa STY kembali untuk periode kedua. Namun, konteks STY di Timnas Indonesia sangat berbeda dengan kondisi di Ulsan HD. “Di Indonesia, STY memiliki kedekatan intens dengan pemain muda maupun diaspora seperti Jay Idzes. Hubungan ini membangun fondasi mental Garuda yang kuat,” ungkapnya, Selasa (21/10/2025).
Efan menyoroti prestasi STY selama lima tahun di Indonesia. Pelatih asal Korea Selatan ini berhasil memaksimalkan potensi pemain lokal, membentuk mental juang, dan menanamkan keberanian untuk menghadapi Thailand, Vietnam, bahkan mengadu taktik dengan pemain Eropa. “Ini yang menjadi pembeda. Di Ulsan, STY datang sebagai pelatih dadakan, tidak memiliki waktu untuk membangun skema permainan dan membentuk chemistry tim. Sedangkan di Indonesia, dia punya kesempatan membentuk kultur tim dari awal,” jelas Efan.
Lebih lanjut, Efan menambahkan bahwa gaya kepelatihan STY memang keras dan disiplin. Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap instruksi taktikal yang diterapkan di lapangan. “Diakui oleh Jeje, STY seorang diktaktor di lapangan. Semua pemain harus mengikuti arahan, dan ini membangun mental juang yang solid,” imbuh Efan.
Meski demikian, Efan menekankan bahwa keputusan untuk menghadirkan STY kembali sebaiknya tidak terburu-buru. Menurutnya, PSSI perlu mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk ekspektasi publik, kebutuhan pengembangan pemain muda, dan strategi jangka panjang untuk menghadapi kompetisi internasional. “Kita harus bijak dalam memilih pelatih. Jangan sampai keputusan cepat justru merusak fondasi yang telah dibangun,” pungkasnya.
Pendapat Efan ini menjadi pengingat penting bagi publik sepak bola Indonesia bahwa jasa Shin Tae-yong dalam membangun mental, disiplin, dan kemampuan taktis skuat Garuda tetap harus dihargai. Sementara itu, PSSI tengah berada dalam proses seleksi untuk menentukan arah kepelatihan Timnas yang akan mengoptimalkan potensi pemain dan meraih prestasi lebih tinggi di Asia maupun dunia.***













