PORTAL ASPIRASI- Isbedy Stiawan ZS herusia 68 tahun pada 5 Juni 2026. Tepat pukul 00.00 ia mendapat ucapan dari keluarga, isteri dan putrinya.
Isteri dan putri dari Paus Sastra Lampung ini, Fitri Angraini dan Dzafira Adeliaputri Isbedy menyalakan lilin di atas kue tart. Lalu keduanya mengucapkan selamat ulang tahun, lalu Isbedy meniup lilin 68 dan padam.
Di media sosial milik penyair yang dijuluki Paus Sastra Lampung oleh H.B. Jassin tersebut, IG, FB, dan TikTok. Di Fabio misalnya lebih dari 30 netizen menyukai foto ultah Isbedy, dan mendapat komentar.
Isbedy menyampaikan terima kasih untuk ucapan dari keluarga dan kawan-kawan. “Saya mainkan tiap doa yang baik,” ujarnya, Jumat 6 Juni 2026.
Momen milad 68 tahun pada 5 Juni 2026, sastrawan kelahiran Rawa Subur, Enggal, Bandar Lampung ini telah melahirkan 2 puisi.
“Dua puisi ini saya tulis di akhir Mei 2026, yang puisi kedua saya terharu tatkala putri saya Dzafira menceritakan tentang mimpinya,” lanjut pengampu Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS ini.
Berikut dua puisi Isbedy kami tayangkan di sini.
Isbedy Stiawan ZS
5 JUNI, 68 TAHUN SILAM
seperti keluar dari kebun labuh
hamparan pohon kelapa, petai,
dan daundaun singkong penuhi
halaman rumah; dari belakang,
samping kiri-kanan juga halaman
depan hampir merapat rel kereta
68 tahun silam, udara masih segar
saat terhirup. membasuh dahaga
tenggorokan
gemuruh kereta layaknya seisme
dan aku, kala itu masih kecil, menari
dalam irama misteri
bahwa kelak kereta yang lalu
dan datang itu akan tiada
pelabuhan panjang jadi sunyi
selain disinggahi kapal barang
dan rel tak lagi rutin berdegup
diganti gemuruh pendatang
yang berdiam dan merantau
tapi aku akan terus tumbuh
serupa pohonpohon itu
mengikuti arah musim
jalan angin yang tak henti
akan tansah ke langit
— melambai,
“halo, aku sudah tinggalkan
rawa subur yang telah
membuatku jadi begini,” bisikku
sebelum sungguhsungguh diam
kau mengenal masa silam itu
Lampung, akhir Mei 2026
5 JUNI, SEKARANG 68 TAHUN
adelia terbangun matanya lembab
oleh airmata; kematian masuk
ke dalam mimpinya. ini pagi
ia melihat seseorang yang kini
berusia 68 tahun terbujur
ia menangisi hidup ia hujani kematian
dari sumur matanya yang selama ini
tidak terukur
aku melihat seseorang terbujur, ceritanya,
diletakkan di ruang tamu. diselimuti kain panjang
milik ibu. tanganku ingin menggamit,
tapi seseorang itu menepis; ia seperti
tergesa oleh suatu pertemuan lain
bukan lagi pertemuan denganku
seseorang itu kembali mendendangkan
lagu bulan yang pernah dinyanyikan
setiap malam purnama sewaktu aku kecil –
ceritanya. ia peluk erat tubuhku
yang tertidur di sebelahnya
ia tahu aku bukan lagi masa silam
menembus jalan dengan langkah
kokoh, aku bukan seperti dulu
yang mampu menggendongnya
saat ia menangis. aku membawanya
ke halaman depan, memandangi bulan
atau langit hitam. menujunk langit, “kelak
kita akan terbang dan diam di sana
sampai dibangunlan kembali,” bisikku
waktu itu adelia masih kecil
belum paham arti kerikil
yang bisa buat kita terpelese
kematian masuk
ke dalam mimpinya. ini pagi
air matanya mengantarkan
untuk kesepian…
Lampung, akhir Mei 2026















