PORTAL ASPIRASI- Penurunan jumlah riset yang dinilai berdampak langsung bagi masyarakat menjadi salah satu perhatian calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031, Dr. Budiono.
Budiono menyoroti tren penelitian di Unila yang menurutnya mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir. Ia menyebut, pada 2024 hingga 2025 jumlah penelitian yang berdampak sebelumnya dapat mencapai sekitar 200 penelitian, sementara pada 2026 jumlahnya disebut turun hingga kisaran 90 penelitian.
“Kalau kita lihat dari hasil yang dicapai Unila sekarang, ini agak menurun jumlah riset yang memberikan dampak ke masyarakat,” ujar Budiono, Senin (7/9/2026).
Menurut Lektor Kepala Bidang Hukum Tata Negara tersebut, capaian riset pada 2024 dan 2025 masih berada di atas 200 penelitian yang dinilai memiliki dampak. Namun, pada 2026 jumlah tersebut disebut belum mencapai 100 penelitian.
“Kalau sekitar tahun sebelumnya itu, 2025 atau 2024, riset kita bisa mencapai 200 lebih yang berdampak. Namun, saat ini belum mencapai 100 penelitian dan masih berada di kisaran 90-an,” katanya.
Bangun Pusat Riset di Setiap Fakultas
Budiono mengatakan, peningkatan kualitas dan dampak penelitian harus menjadi bagian penting dalam arah pengembangan Unila ke depan.
Ia menawarkan pembentukan pusat-pusat riset atau pusat studi di setiap fakultas apabila nantinya mendapat amanah memimpin Unila.
Menurutnya, keberadaan pusat riset di tingkat fakultas dapat membuat agenda penelitian lebih terarah sesuai dengan keunggulan keilmuan masing-masing. Selain itu, pusat studi juga dinilai dapat mempermudah kampus membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, dunia industri, UMKM hingga masyarakat.
“Sekarang seperti di pertanian itu sudah ada pusat riset berskala nasional tentang cassava yang baru dibentuk itu. Nah, inilah yang kalau saya terpilih, saya akan setiap fakultas itu harus ada pusat-pusat risetnya atau pusat-pusat studi,” ujar Budiono.
Ia menilai model tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk membuat ekosistem riset Unila tidak bersifat eksklusif bagi kalangan akademisi.
Sebaliknya, hasil kajian akademik diharapkan dapat digunakan secara langsung oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk sektor pertanian, industri dan UMKM di Lampung.
Siapkan Anggaran dan Insentif Peneliti
Tidak hanya membentuk pusat riset, Budiono juga menyatakan komitmennya memberikan dukungan anggaran terhadap kegiatan penelitian.
Menurutnya, dukungan finansial menjadi faktor penting agar pusat riset yang dibangun tidak hanya menjadi struktur kelembagaan, tetapi mampu menghasilkan penelitian yang memberikan manfaat nyata.
“Nanti kita berikan anggaran lebih terhadap penelitian tersebut,” ujarnya.
Budiono menegaskan bahwa riset harus memiliki muara pada penyelesaian persoalan sekaligus mampu memberikan nilai tambah bagi universitas.
“Muara kita ialah riset/penelitian. Dengan penelitian itu mempunyai dampak besar. Tiap berhasil memecahkan masalah, maka bisa menjadikan input pendapatan bagi universitas kalau riset itu bisa dipakai oleh sumber daya, baik itu industri maupun masyarakat,” katanya.
Selain anggaran penelitian, ia juga menawarkan pemberian insentif atau penghargaan kepada dosen maupun kelompok peneliti yang mampu menghasilkan riset dengan dampak nyata.
“Kita berikan insentif atau reward terhadap mereka-mereka yang bisa menghasilkan hasil riset yang berdampak itu dari kampus,” kata Budiono.
Dorong Kolaborasi dengan Pemerintah dan Industri
Budiono menyadari pembangunan ekosistem penelitian tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan internal kampus.
Menurutnya, jejaring kemitraan antara Unila, pemerintah daerah, sektor industri dan masyarakat harus dibangun sejak tahap penelitian hingga implementasi hasil kajian.
Dengan pola tersebut, hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik atau publikasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan untuk membantu menyelesaikan persoalan konkret.
“Atau kita nanti bisa bekerja sama dengan pemerintah daerah atau industri. Sehingga hasil kita itu bisa langsung digunakan oleh masyarakat atau pemerintah daerah,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut, menurut Budiono, juga dapat membuka peluang bagi Unila untuk meningkatkan kontribusinya terhadap pembangunan daerah.
Pemerintah daerah dapat memanfaatkan hasil penelitian sebagai salah satu bahan dalam penyusunan kebijakan. Sementara sektor industri dan UMKM dapat mengadopsi inovasi maupun temuan akademik untuk meningkatkan produktivitas.
Dari Output ke Impact
Budiono menilai Unila perlu memperkuat paradigma penelitian dari sekadar mengejar output menuju riset yang memiliki impact atau dampak terukur.
Artinya, kualitas penelitian tidak hanya dilihat dari jumlah publikasi atau dokumen kajian yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana penelitian mampu menjawab persoalan masyarakat.
Riset, kata dia, idealnya dapat membantu meningkatkan produktivitas, menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi dunia usaha dan industri.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari visi Budiono apabila dipercaya memimpin Unila periode 2027–2031. Ia ingin menjadikan penelitian sebagai salah satu instrumen utama untuk memperkuat posisi kampus sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Lampung.
Dengan pusat riset di setiap fakultas, dukungan anggaran, pemberian insentif bagi peneliti, serta penguatan jaringan dengan pemerintah dan dunia industri, Budiono berharap ekosistem penelitian Unila dapat bergerak lebih produktif dan menghasilkan dampak yang dapat dirasakan secara langsung.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan riset bukan hanya seberapa banyak penelitian yang berhasil dibuat, tetapi seberapa jauh hasil penelitian tersebut mampu menjawab kebutuhan dan persoalan nyata di tengah masyarakat.***
