Ryamizard Ryacudu dan Pesan Abadi: Menjaga Adat Sama dengan Menjaga Negara

banner 468x60

PORTAL ASPIRASI- Kepergian Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu pada Minggu, 31 Mei 2026, meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Sosok yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) dan Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-25 itu bukan hanya dikenang sebagai tokoh militer, tetapi juga sebagai figur yang memiliki perhatian besar terhadap adat, budaya, dan persatuan bangsa.

Di Lampung Selatan, khususnya di lingkungan masyarakat adat Marga Legun, nama Ryamizard memiliki tempat tersendiri dalam ingatan kolektif masyarakat. Bukan semata karena jabatan yang pernah diembannya, melainkan karena kedekatannya dengan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

banner 336x280

Bagi warga Way Urang, Kalianda, Ryamizard adalah sosok yang memahami bahwa kekuatan bangsa tidak hanya dibangun melalui pertahanan negara dan pembangunan fisik, tetapi juga melalui akar budaya yang kuat serta persatuan yang terjaga.

Ketika Negara dan Adat Bertemu

Kenangan itu kembali mengemuka ketika masyarakat mengingat momen Silaturahmi Besar dan Halalbihalal Masyarakat Adat Lampung yang digelar di Lamban Balak Marga Legun pada 30 Juni 2019.

Saat itu, Ryamizard hadir sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia sekaligus Ketua Yayasan Penyimbang Adat Lampung (Yapemal). Kehadirannya menjadi simbol kuat bahwa adat dan negara bukanlah dua hal yang berdiri terpisah.

Di hadapan para penyimbang adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, aparat pemerintah, hingga generasi muda, Ryamizard menyampaikan pesan yang hingga kini masih dikenang.

“Adat dan negara itu satu, tidak bisa dipisahkan. Menjaga adat sama artinya dengan menjaga keutuhan negara.”

Pernyataan tersebut menjadi cerminan pandangannya tentang Indonesia sebagai bangsa yang besar karena keberagaman budaya yang dimilikinya.

Baginya, adat bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan sumber nilai yang membentuk karakter bangsa. Nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada orang tua, serta kebersamaan adalah fondasi yang membuat Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman.

Seorang Jenderal yang Menghormati Budaya

Dalam berbagai kesempatan, Ryamizard menunjukkan bahwa penghormatan terhadap budaya bukan hanya sebatas retorika.

Ia kerap hadir dalam berbagai kegiatan adat, berdialog dengan para penyimbang, dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan mereka.

Di lingkungan adat Lampung, Ryamizard juga dikenal dengan gelar kehormatan Sutan Tuan Kacca Makhga, sebuah gelar yang memiliki makna mendalam dalam tradisi masyarakat Lampung.

Gelar tersebut bukan sekadar penghargaan simbolis, tetapi merupakan bentuk kepercayaan dan pengakuan masyarakat adat terhadap komitmennya dalam menjaga nilai-nilai budaya serta memperkuat persatuan bangsa.

Warisan yang Tetap Relevan

Penggiat dan Pemerhati Budaya Lampung, Kgs. Dedi Miryanto, S.E. (KDM), menilai Ryamizard sebagai figur yang mampu memadukan ketegasan seorang prajurit dengan kebijaksanaan seorang tokoh budaya.

Menurutnya, Ryamizard memahami bahwa budaya bukan pelengkap kehidupan berbangsa, melainkan salah satu pilar utama yang menopang keutuhan Indonesia.

“Beliau memahami bahwa kekuatan bangsa tidak hanya berada pada institusi negara, tetapi juga pada budaya yang hidup di tengah masyarakat. Itulah yang membuat beliau begitu dekat dengan masyarakat adat,” ujar KDM.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial yang semakin cepat, pesan-pesan yang pernah disampaikan Ryamizard dinilai masih sangat relevan.

Kemajuan teknologi dan modernisasi, menurutnya, tidak boleh membuat bangsa Indonesia kehilangan identitas budayanya.

Sebaliknya, budaya harus menjadi fondasi moral yang membantu masyarakat tetap berpijak pada nilai-nilai luhur di tengah perubahan zaman.

Jejak yang Tak Akan Hilang

Kini Ryamizard Ryacudu telah berpulang. Namun warisan pemikiran, keteladanan, dan kecintaannya terhadap Indonesia tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Bagi masyarakat adat Lampung, khususnya Marga Legun dan Way Urang, yang dikenang bukan hanya seorang mantan Menteri Pertahanan atau jenderal berbintang empat.

Mereka mengenang seorang pemimpin yang datang ke rumah adat, duduk bersama para penyimbang, mendengarkan petuah para tetua, dan menunjukkan bahwa adat adalah bagian penting dari perjalanan bangsa.

Dari pesisir Kalianda hingga berbagai penjuru Nusantara, nama Ryamizard Ryacudu akan terus dikenang sebagai sosok yang membuktikan bahwa adat dan negara bukanlah dua jalan yang berbeda.

Keduanya adalah dua kekuatan yang saling menguatkan dalam satu rumah besar bernama Indonesia.

Selamat jalan, Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu.

Jejak pengabdianmu akan tetap hidup dalam sejarah bangsa, sementara kecintaanmu terhadap adat dan budaya akan terus menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang.***

banner 336x280