PORTAL ASPIRASI- Upaya mencegah gajah Sumatra keluar dari kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terus dikembangkan. Kali ini, pendekatan berbasis alam dipadukan dengan pemberdayaan masyarakat melalui program pagar sarang lebah di wilayah perbatasan kawasan konservasi.
Program tersebut dikembangkan Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK. Konsepnya tidak sekadar menjadi penghalang alami agar gajah tidak keluar kawasan, tetapi juga diarahkan untuk membuka peluang ekonomi bagi warga desa penyangga melalui budidaya lebah madu Apis cerana.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, mengatakan pembangunan pagar di batas kawasan menjadi salah satu langkah taktis untuk menghadapi konflik manusia dan gajah yang telah berlangsung sejak dekade 1980-an.
Menurut Sriyanto, persoalan tersebut bukan masalah sederhana. Konflik manusia dan gajah berkaitan dengan krisis keanekaragaman hayati serta dinamika kepentingan pembangunan. Karena itu, penyelesaiannya membutuhkan pendekatan yang terintegrasi.
“Untuk mengatasi hal ini diperlukan solusi terpadu, seperti menciptakan kawasan satwa liar, memanfaatkan teknologi, dan mendorong upaya konservasi berbasis komunitas,” ungkap Brigjen TNI Sriyanto.
Salah satu pendekatan yang kini dikembangkan adalah pagar sarang lebah. Metode yang telah diuji di sejumlah wilayah Afrika tersebut memanfaatkan respons alami gajah terhadap keberadaan lebah.
“Pagar sarang lebah adalah salah satu solusi berbasis alam yang telah diujicoba di Afrika untuk mencegah gajah keluar dari kawasan konservasi. Suara dengungan dan sengatan lebah akan membuat gajah merasa takut dan menjauh namun tidak membahayakan gajah,” jelas Sriyanto.
Konsep ini membuat program pagar lebah memiliki dua fungsi sekaligus. Dari sisi konservasi, keberadaan sarang lebah di sekitar batas kawasan diharapkan membantu mencegah gajah mendekati wilayah permukiman atau lahan warga.
Sementara dari sisi ekonomi, warga desa penyangga dapat memanfaatkan sarang tersebut untuk mengembangkan budidaya lebah madu asli Indonesia jenis Apis cerana.
Lebah jenis ini dinilai cocok dengan iklim tropis Indonesia. Potensi tersebut menjadi salah satu alasan program pagar lebah tidak hanya diarahkan sebagai strategi mitigasi konflik satwa, tetapi juga sebagai peluang pengembangan usaha masyarakat.
Program tersebut mencatat kebutuhan madu di Indonesia terus meningkat sekitar 10-15 persen per tahun. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2024 yang menjadi acuan program, konsumsi madu Indonesia baru berada di angka sekitar 220 gram per kapita per tahun, sementara impor madu masih mencapai lebih dari 60 persen dari total kebutuhan.
Potensi pendapatan dari budidaya lebah juga dinilai cukup menjanjikan. Satu koloni Apis cerana disebut mampu menghasilkan sekitar 5 hingga 8 kilogram madu per tahun.
Jika harga jual berada di kisaran Rp150.000 per kilogram, maka 10 koloni lebah berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan sekitar Rp7,5 juta hingga Rp15 juta per tahun.
“1 koloni Apis cerana bisa hasilkan 5-8 kg madu/tahun. Dengan harga Rp150.000/kg, 10 koloni bisa jadi tambahan penghasilan Rp7,5 juta – Rp15 juta/tahun. Ini potensi besar untuk UMKM dan ekonomi keluarga di Bandar Lampung,” lanjut keterangan dalam program tersebut.
Dengan skema tersebut, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang terdampak konflik manusia dan gajah, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian dari solusi.
Program pagar lebah sekaligus diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi UMKM dan keluarga di sekitar kawasan konservasi.
Manfaatnya pun tidak berhenti pada sektor ekonomi. Keberadaan lebah juga memiliki peran penting terhadap ekosistem dan pertanian warga.
Berdasarkan data FAO 2023 yang dicantumkan dalam program tersebut, sekitar 75 persen tanaman pangan sangat bergantung pada proses penyerbukan yang dibantu lebah.
“Keberadaan lebah membantu menjaga ekosistem, membantu proses penyerbukan tanaman di sekitar perkebunan warga,” pungkas Brigjen TNI Sriyanto.
Dengan pendekatan tersebut, pagar lebah di TNWK diharapkan menjadi solusi yang memberikan manfaat dari dua sisi sekaligus: membantu menjaga gajah tetap berada di habitatnya dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.***













