PORTAL ASPIRASI- Dosen STIT Pringsewu Dr. Dedi Irawan, S.E., M.E.Sy., mendorong para pengrajin Mahan Tapis Lampung memanfaatkan telepon seluler, media sosial, hingga platform e-commerce untuk memperluas pemasaran produk.
Dorongan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pelatihan E-Commerce dan Digitalisasi Pemasaran Produk Mahan Tapis Lampung yang digelar di Gedung Mahan Tapis, Margakaya, Pringsewu, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institut Bakti Nusantara yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Tahun 2026.
Pelatihan diikuti 22 peserta yang terdiri atas pengurus Kelompok Pengelola Usaha (KPU) Mahan Tapis serta masyarakat sekitar yang sebagian besar merupakan pengrajin Tapis Lampung.
Program PkM tersebut dipimpin Siti Mukodimah, M.TI., dengan anggota Leni Anggraeni, M.Pd. dan Ida Ayu Putu Anggie S., M.H. Sementara narasumber dalam kegiatan tersebut yakni Dr. Dedi Irawan, S.E., M.E.Sy., Dosen STIT Pringsewu, dan M. Muslihudin, M.TI.
Dalam pelatihan, Dedi memberikan materi digital marketing dengan pendekatan sederhana dan praktik langsung. Para peserta diajarkan mulai dari memilih produk yang akan dijual, membuat nama produk, menentukan harga, menyusun deskripsi, memotret produk menggunakan HP, hingga membuat promosi melalui WhatsApp dan media sosial.
Peserta juga diajak mempraktikkan pembuatan video pendek, katalog produk, testimoni pelanggan, serta simulasi melayani calon pembeli.
Salah satu kegiatan praktik yang dilakukan adalah “Challenge 15 Menit Jadi Penjual Online”. Dalam tantangan tersebut, peserta diminta membuat materi promosi yang memuat foto produk, nama produk, harga, deskripsi singkat, dan nomor WhatsApp.
Dedi mengatakan, pemasaran digital tidak harus dimulai dengan teknologi yang rumit. Para pengrajin dapat memanfaatkan HP yang selama ini sudah digunakan dalam aktivitas sehari-hari untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk.
“Ibu-ibu sudah memiliki keterampilan membuat Tapis. Sekarang kita belajar bagaimana HP yang selama ini digunakan sehari-hari dapat menjadi alat untuk memperkenalkan dan menjual hasil karya mereka kepada pasar yang lebih luas,” ujar Dedi.
Ia juga menekankan pentingnya mengangkat nilai budaya dan cerita di balik produk Tapis Lampung dalam setiap materi promosi.
Menurutnya, Tapis bukan sekadar kain, tetapi merupakan karya budaya sekaligus identitas Lampung yang memiliki potensi ekonomi apabila mampu dipasarkan dengan strategi yang tepat.
“Tapis bukan hanya kain, tetapi karya, budaya, identitas Lampung, sekaligus dapat menjadi sumber penghasilan keluarga,” jelasnya.
Sementara itu, M. Muslihudin, M.TI., memberikan materi mengenai pemanfaatan e-commerce dan marketplace sebagai sarana pemasaran sekaligus penjualan produk.
Peserta diperkenalkan dengan berbagai tahapan pengelolaan toko online, mulai dari membuat toko, mengunggah foto produk, mencantumkan nama dan harga, membuat deskripsi, hingga menyiapkan produk agar siap dipasarkan secara online.
Ketua Tim PkM Siti Mukodimah, M.TI., mengatakan pelatihan tersebut diarahkan agar peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan digital secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
“Kami berharap keterampilan yang diperoleh dapat langsung diterapkan oleh KPU Mahan Tapis, mulai dari membuat konten, mengelola media sosial, menampilkan produk, hingga memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan pemasaran,” ujarnya.
Setelah pelatihan, peserta juga diarahkan membuat jadwal sederhana dan konsisten dalam memasarkan produk.
Materi pelatihan mendorong peserta untuk rutin menampilkan foto produk, proses pembuatan Tapis, video pendek, cerita tentang Tapis, promo, hingga testimoni pelanggan.
Dengan strategi tersebut, para pengrajin Mahan Tapis diharapkan tidak lagi hanya mengandalkan pembeli yang datang secara langsung.
Sebaliknya, produk Tapis Lampung dapat diperkenalkan secara lebih luas melalui media digital sehingga berpotensi menjangkau konsumen dari berbagai daerah.
Digitalisasi pemasaran ini sekaligus diharapkan dapat membantu pengrajin meningkatkan daya saing produk lokal tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat pada Tapis Lampung.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. (Wid/rilis)



















