PORTAL ASPIRASI- Upaya membantu warga yang mengalami musibah kematian dilakukan Pemerintah Kampung Way Tuba, Kecamatan Gunung Labuhan, Kabupaten Way Kanan, Lampung, melalui program sumbangan kematian yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya warga kurang mampu.
Program tersebut digagas oleh Kepala Kampung Way Tuba, Rusman S. Sos., sebagai bentuk kepedulian terhadap warganya. Melalui program ini, setiap warga diwajibkan mengumpulkan sumbangan sebesar Rp5.000 per bulan yang dikoordinasikan melalui petugas di masing-masing kedusunan.
Dana yang terkumpul kemudian diperuntukkan bagi warga yang mengalami musibah. Selain dana hasil iuran, terdapat bantuan sebesar Rp1 juta bagi setiap warga Kampung Way Tuba yang meninggal dunia.
Menurut Rusman S. Sos., gagasan tersebut dilatarbelakangi keinginan untuk membantu masyarakat ketika menghadapi musibah yang datang secara tiba-tiba. Sebab, tidak semua keluarga yang sedang berduka memiliki kesiapan finansial untuk memenuhi berbagai kebutuhan saat anggota keluarganya meninggal dunia.
Program ini pun mendapat respons positif dari sejumlah warga. Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku sangat terbantu dengan adanya iuran tersebut.
“Sumbangan yang kami kumpulkan setiap satu bulan sekali itu sangat membantu kami. Ketika kita ditimpa musibah secara mengejutkan, kadang kami sedang tidak punya uang. Tapi dengan adanya sumbangan ini, kami sangat terbantu sekali,” ujarnya.
Sementara itu, saat awak media menyambangi kediaman Ketua Pengurus Kematian Kampung Way Tuba, Junaidi, yang bersangkutan sedang tidak berada di rumah. Namun, awak media berhasil menghubunginya melalui sambungan telepon.
Menurut keterangan Junaidi, program yang digagas Kepala Kampung Way Tuba tersebut pada awalnya sempat menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Sebagian warga saat itu belum sepenuhnya menerima adanya kewajiban iuran bulanan.
Namun, setelah program berjalan dan manfaatnya mulai dirasakan ketika ada warga yang mengalami musibah, pandangan sebagian masyarakat disebut mulai berubah.
“Awalnya memang banyak kontroversi di kalangan masyarakat. Tetapi setelah mereka merasakan manfaatnya, yang sebelumnya tidak mendukung justru berterima kasih. Mereka merasa sangat terbantu dengan adanya sumbangan ini,” ungkapnya.
Program tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap warga tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk bantuan dalam jumlah besar. Dengan iuran yang relatif kecil dan dikelola secara bersama, masyarakat dapat memiliki dana sosial yang bisa digunakan ketika salah satu warga menghadapi musibah.
Keberadaan program sumbangan kematian ini juga dinilai dapat menjadi salah satu bentuk gotong royong masyarakat di tingkat kampung. Terlebih bagi keluarga yang secara ekonomi kurang mampu, bantuan tersebut dapat meringankan beban pada saat menghadapi situasi duka.
Langkah Kampung Way Tuba ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kampung lainnya dalam membangun sistem kepedulian sosial berbasis masyarakat, dengan tetap mengedepankan keterbukaan, kejelasan pengelolaan dana, serta kesepakatan bersama warga.***
Penulis: Erwan Ependi













