PORTAL ASPIRASI- suasana optimisme mulai kembali terasa di Bumi Dipasena, Tulangbawang, Lampung. Para petambak eks Dipasena yang sempat lama berjuang sendiri tanpa dukungan perusahaan inti kini bangkit kembali dengan tekad kuat untuk mengelola tambak secara mandiri. Momentum kebangkitan ini ditandai dengan rencana panen raya udang yang akan digelar September mendatang, sebuah langkah yang diharapkan mampu mengembalikan kejayaan Lampung sebagai salah satu sentra udang nasional.
Pada era keemasan 1990-an, Lampung pernah menjadi produsen udang nomor satu di Indonesia. Keberhasilan itu didorong oleh pola kemitraan yang berjalan baik antara PT Dipasena Citra Darmaja dan PT Central Pertiwi Bahari. Namun seiring berjalannya waktu, berbagai persoalan membuat posisi Lampung merosot ke peringkat lima nasional.
“Baik pemerintah pusat maupun daerah terus berupaya agar pertambakan Lampung, khususnya di Bumi Dipasena, bisa bangkit dan berjaya kembali,” kata Direktur PT Sakti Biru Indonesia (SBI), Suseno Reffandi.
Tantangan yang Dihadapi Petambak
Meski berpengalaman, para petambak tidak lepas dari berbagai kendala serius. Kondisi kualitas air dan lingkungan yang menurun, minimnya infrastruktur, tidak adanya standar operasional baku (SOP), hingga keterbatasan modal kerap membuat hasil produksi tidak stabil. Situasi ini membuat petambak semakin sulit bersaing di tengah ketatnya pasar udang global.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Sakti Biru Indonesia menjalin kerja sama dengan Badan Pengurus Wilayah (BPW) Bumi Dipasena Makmur di bawah naungan BPP P3UW Lampung. Kerja sama ini bertujuan memperbaiki sistem produksi, menerapkan SOP budidaya yang lebih terukur, serta mendampingi petambak agar bisa lebih profesional dan produktif.
Pelatihan dan Pendampingan
Sebagai bentuk dukungan nyata, PT SBI memberikan pelatihan gratis bagi perwakilan petambak di fasilitas riset dan produksi mereka di Suak, Lampung Selatan. Materi yang diberikan meliputi manajemen persiapan kolam, pemberian pakan pada masa kritis awal budidaya, hingga pengecekan anco secara rutin untuk memastikan kondisi udang.
Para petambak yang mengikuti pelatihan ini diharapkan menjadi agen perubahan di kelompoknya masing-masing. Selain transfer ilmu, PT SBI juga mendukung melalui penyediaan benur unggul, probiotik, serta pakan tambahan. Skema pembayaran ringan yang ditawarkan bertujuan agar petambak tidak terbebani biaya produksi di awal usaha.
“Kami ingin SOP ini benar-benar berjalan optimal dan membawa hasil nyata bagi petambak,” ujar Suseno.
Panen Raya sebagai Momentum Kebangkitan
Sebagai bukti kebangkitan, panen raya udang akan digelar pada 10–12 September 2025 mendatang di Bumi Dipasena. Acara ini direncanakan dihadiri langsung oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. “Gubernur sudah menyatakan kesediaannya untuk hadir di acara panen raya itu,” ungkap Suseno penuh semangat.
Saat ini, BPW Bumi Dipasena Makmur mengelola dua blok tambak, yakni Blok 10 dan Blok 11, yang dihuni sekitar 1.200 kepala keluarga dengan total 2.400 petak tambak. Para petambak berharap dengan sistem baru yang terstruktur, produksi bisa meningkat dan menjadi percontohan bagi kawasan tambak lainnya di Lampung.
Wakil petambak, Sukri, menyambut baik langkah ini. “Kami sangat terbantu. Ada kebersamaan di antara petambak, dan dengan SOP baru ini produksi mulai menunjukkan tren positif. Semoga bisa menjadi contoh dan harapan baru bagi petambak lain di luar Dipasena,” ujarnya.
Dukungan PT Sakti Biru Indonesia
Sebagai perusahaan perudangan terintegrasi, PT SBI mengelola rantai usaha dari hulu hingga hilir, mulai dari hatchery, nursery, pembesaran, hingga perdagangan pascapanen. Saat ini, perusahaan juga tengah menyiapkan unit cold storage yang akan memperkuat rantai pasok udang dari petambak hingga pasar.
Tidak hanya itu, PT SBI juga memiliki lini usaha pendukung berupa produksi probiotik, feed additive berbahan dasar maggot, serta laboratorium RT-PCR yang mampu mendeteksi dini hingga tujuh jenis penyakit udang. Hal ini memberi rasa aman dan jaminan kualitas kepada petambak dalam menjaga keberlanjutan produksi.
“Dengan pengalaman, kompetensi yang kami miliki, dan antusiasme kerja sama dari petambak, kami optimistis dapat mendorong para petambak eks Dipasena untuk kembali berjaya dan mengembalikan Lampung ke peta utama produksi udang nasional,” pungkas Suseno penuh keyakinan.***













