Malam Mencekam di Pasar Dekon Kotabumi: Puing Bangunan Ex-Cinema Runtuh, Belasan Kios Pedagang Hancur

banner 468x60

PORTAL ASPIRASI– Malam di Pasar Dekon Kotabumi berubah mencekam saat puing-puing bangunan eks gedung bioskop (Ex-Cinema) tiba-tiba ambruk dan menimpa deretan kios penampungan di bawahnya, Minggu (6/10/2025) malam. Kejadian tersebut menyebabkan setidaknya 15 kios pedagang rusak parah. Meski tidak ada korban jiwa, insiden ini menimbulkan kepanikan besar di kalangan pedagang yang tengah bersiap menutup lapak.

Beberapa saksi mata mengungkapkan bahwa suara reruntuhan terdengar keras disertai debu tebal yang membumbung tinggi. Pedagang yang berada di sekitar lokasi berhamburan menyelamatkan diri, meninggalkan barang dagangan mereka demi menghindari kemungkinan bangunan lain ikut roboh. “Kami kaget sekali, suaranya seperti ledakan. Semua orang lari ketakutan,” ujar Rini, salah satu pedagang yang kiosnya hancur tertimpa puing.

banner 336x280

Diketahui, pembongkaran bangunan eks-Cinema itu dilakukan pada malam hari. Para pekerja dilaporkan bekerja hingga larut malam tanpa penerangan memadai dan diduga tanpa pengawasan teknis yang ketat. Sejumlah warga menilai aktivitas pembongkaran tersebut dilakukan secara terburu-buru dan berisiko tinggi.

“Sepertinya mereka kejar target, karena suara palu dan alat berat masih terdengar hingga tengah malam. Tapi tidak ada tanda-tanda pengamanan di lokasi,” tambah seorang warga sekitar, yang enggan disebutkan namanya.

Plt Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Lampung Utara, Hendri, langsung meninjau lokasi kejadian pada Senin pagi. Ia menyatakan keprihatinannya dan memastikan pemerintah daerah akan segera mencari solusi bagi para pedagang terdampak. “Kami akan melakukan pendataan ulang seluruh kios yang rusak dan menghitung total kerugian. Laporan lengkap akan segera kami sampaikan kepada pimpinan daerah,” ujarnya.

Hendri juga menegaskan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan penegak hukum, untuk menelusuri penyebab utama runtuhnya bangunan tersebut. “Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Proses pembongkaran seharusnya dilakukan sesuai prosedur, dengan pengawasan dan peralatan keselamatan yang memadai,” tambahnya.

Para pedagang kini berharap pemerintah segera memindahkan mereka ke lokasi baru yang lebih aman. Mereka mengaku trauma dan enggan kembali berjualan di area penampungan sementara yang telah rusak. “Kami takut, Mas. Kalau bisa dipindah ke tempat yang benar-benar aman. Kami cuma ingin bisa jualan tanpa rasa cemas,” tutur Suyono, pedagang lainnya dengan nada lirih.

Dugaan sementara, puing-puing jatuh karena lemahnya struktur bangunan lama yang tidak diperhitungkan saat proses pembongkaran. Pekerja di lapangan disebut tidak menggunakan alat pelindung diri dan alat berat yang sesuai, sehingga berisiko menimbulkan kecelakaan kerja.

Pakar konstruksi lokal menyebut bahwa sebelum pembongkaran dilakukan, seharusnya pengembang melakukan penilaian kondisi struktur bangunan, mengantongi izin resmi dari dinas terkait, serta menyiapkan rencana keselamatan kerja. Pengawasan dari pihak berwenang pun menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan.

“Pembongkaran bangunan tua seperti eks gedung bioskop tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus ada kajian teknis agar tidak mengancam keselamatan publik,” kata seorang ahli bangunan dari Universitas Lampung saat dimintai pendapat.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kelalaian proyek pembangunan di daerah yang berujung merugikan masyarakat kecil. Pemerintah Kabupaten Lampung Utara diminta bertindak tegas terhadap pengembang yang terbukti lalai dan mengabaikan keselamatan publik.

Sementara itu, kondisi pasar saat ini dijaga aparat kepolisian setempat untuk mencegah penjarahan dan memastikan proses pembersihan puing berjalan lancar. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengembang mengenai penyebab utama ambruknya bangunan.

Insiden di Pasar Dekon menjadi peringatan keras bagi semua pihak: keselamatan publik tidak boleh dikorbankan demi kejar target proyek. Masyarakat berharap, tragedi seperti ini tidak lagi menjadi berita rutin di Lampung Utara.***

banner 336x280