Pentas Budaya Kodam Radin Inten Galang Donasi

banner 468x60

PORTAL ASPIRASI- Awal tahun 2026 dibuka dengan pendekatan kemanusiaan yang berbeda oleh Kodam XXI/Radin Inten. Lewat pentas seni dan budaya terbuka untuk umum, TNI mengajak masyarakat menikmati hiburan sekaligus berpartisipasi membantu korban bencana di berbagai wilayah Sumatera.

Kegiatan bertajuk Pentas Seni dan Budaya Keberagaman ini dijadwalkan berlangsung pada 10 Januari 2026. Acara ini dapat diikuti secara gratis oleh masyarakat dan dirancang sebagai ruang bersama antara hiburan publik dan aksi sosial yang relevan dengan kondisi kebencanaan di awal tahun.

banner 336x280

Di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam, kegiatan ini menjadi penting karena menawarkan cara partisipasi yang inklusif. Masyarakat tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan gotong royong yang berbasis empati dan kepedulian sosial.

Panitia menyiapkan rangkaian pertunjukan seni Nusantara yang merepresentasikan keberagaman budaya. Sejumlah tarian tradisional seperti tari khas Lampung, Reog, Jatilan, hingga tari Bali akan tampil dalam satu panggung, menghadirkan suasana kebhinekaan yang cair dan dekat dengan masyarakat.

Pada malam hari, acara akan berlanjut dengan hiburan Campur Sari dan Dangdut yang lebih akrab dengan selera lintas generasi. Nuansa budaya Lampung kembali dihadirkan lewat Tari Sigeh Penginten, disusul Tari Prajurit dari Sanggar Wayang sebagai simbol ketangguhan dan nilai keprajuritan.

Puncak acara ditandai dengan pagelaran Wayang Kulit dengan lakon “Bimo Krido”. Lakon ini dipilih karena mengandung pesan perjuangan, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama, selaras dengan semangat kemanusiaan yang diusung dalam kegiatan tersebut.

Selain pertunjukan seni, panitia juga menyiapkan berbagai door prize untuk meningkatkan antusiasme masyarakat. Kehadiran hadiah ini diharapkan membuat acara terasa lebih hangat dan meriah, tanpa menghilangkan esensi sosial yang menjadi tujuan utama.

Aster Kodam XXI/Radin Inten Kolonel Infanteri Anang menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai hiburan yang memiliki nilai sosial kuat. Ia menegaskan bahwa seni dan budaya dipilih sebagai medium karena mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana yang inklusif.

“Pentas seni ini kami gelar untuk mempererat kebersamaan sekaligus mengajak masyarakat ikut peduli terhadap saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatra,” ujar Anang.

Menurutnya, konsep gratis sengaja dipilih agar tidak ada jarak antara penyelenggara dan masyarakat. Semua warga diharapkan bisa hadir bersama keluarga, menikmati pertunjukan, dan berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing.

“Kami ingin masyarakat datang bersama keluarga, menikmati seni dan budaya, serta berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan dengan penuh keikhlasan,” katanya.

Anang juga menegaskan bahwa donasi yang dihimpun bersifat sukarela dan akan disalurkan langsung untuk membantu masyarakat terdampak bencana alam. Transparansi dan semangat gotong royong menjadi prinsip utama dalam pelaksanaannya.

“Donasi yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk membantu masyarakat terdampak bencana. Ini adalah wujud nyata gotong royong dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Ia berharap, kegiatan ini tidak berhenti sebagai hiburan semata, tetapi mampu memperkuat solidaritas sosial dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Sumatera dan Lampung khususnya.

Di tengah tantangan sosial dan kemanusiaan yang terus muncul, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa ruang publik bisa menjadi medium empati. Seni dan budaya bukan hanya soal ekspresi, tetapi juga jembatan untuk saling menguatkan di saat sulit.***

banner 336x280