Revolusi Kamar Mandi: Satire Pedas DPRD Bandar Lampung dalam Puisi Muhammad Alfariezie

PORTAL ASPIRASI – Sebuah puisi berjudul “Revolusi Kamar Mandi di Kota Berseri” karya penyair muda Muhammad Alfariezie mendadak jadi perbincangan panas. Bukan sekadar karya sastra, puisi ini menjadi pamflet politik yang menohok, menyindir keras kinerja dua legislator perempuan asal Golkar dan Gerindra di DPRD Bandar Lampung.

Puisi tersebut menggambarkan bagaimana dua wakil rakyat, Hetty Friskatati (Golkar) dan Mayang Suri Djausal (Gerindra), dianggap enggan menjawab pertanyaan kritis seputar skandal SMA Swasta Siger, sekolah yang disebut-sebut ilegal dan diduga menyedot dana APBD melalui “The Killer Policy”.

Dengan gaya puitis yang lugas dan penuh satire, Alfariezie menuliskan kritiknya: dua legislator itu “malas membaca, malas mengetik”, seolah jauh dari tugas intelektual seorang wakil rakyat. Lebih pedas lagi, ia menyinggung politik dinasti yang mengangkat Mayang Suri ke kursi DPRD serta potensi jerat pidana korupsi akibat pembiaran regulasi.

Menurut Alfariezie, puisinya tidak dimaksudkan untuk menuduh pribadi, melainkan sindiran simbolis. “Saya capek menulis berita, tapi Komisi 4 DPRD Bandar Lampung tetap diam. Padahal pelanggaran regulasi nyata di depan mata. Saya buat puisi karena ingin menggugat dengan cara berbeda,” ungkapnya, Sabtu, 12 September 2025.

Dalam puisinya, ia juga menyinggung absurditas para wakil rakyat yang bergaji dari uang rakyat namun enggan membuka regulasi, sementara jurnalis dengan segala keterbatasannya tetap membaca aturan meski sulit membeli sebungkus nasi. Simbol “revolusi kamar mandi” yang digunakan menjadi metafora getir: perubahan yang sepele, remeh, bahkan absurd, dibanding bobroknya masalah bangsa yang menumpuk.

Kritik Alfariezie berakar pada tradisi satire politik panjang di Indonesia. W\.S. Rendra lewat Sajak-Sajak Pertemuan Mahasiswa pernah mengecam pejabat yang bungkam, sedangkan Taufiq Ismail menulis Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia dengan nada getir. Bedanya, karya Alfariezie tampil lebih blak-blakan, lugas, dan kasar: “Payah! Dua-duanya malas membaca dan mengetik.”

Meski sederhana, puisinya sarat makna. Ia bukan sekadar untaian kata, tetapi peringatan keras bahwa ketika wakil rakyat malas berpikir, malas membaca, dan malas menulis regulasi, rakyatlah yang akan menerima dampak buruknya.

Bandar Lampung boleh saja menyebut diri sebagai “Kota Berseri”. Namun jika politiknya hanya melahirkan “revolusi kamar mandi”, maka yang berseri hanyalah slogan, bukan masa depan warganya.

Puisi ini membuktikan bahwa sastra tetap menjadi senjata kritik sosial yang efektif. Ia bukan hanya ekspresi estetik, tetapi juga agitasi politik yang mengguncang nurani. Muhammad Alfariezie, dengan keberanian dan satire pedasnya, menegaskan bahwa kritik bisa hadir lewat puisi—tajam, getir, sekaligus menyentil kekuasaan yang lalai.****