PORTAL ASPIRASI– Shin Tae-yong kembali menjadi sorotan publik sepak bola Indonesia sebagai sosok pelatih yang berhasil membawa Timnas Indonesia meraih prestasi membanggakan, sementara keputusan Erick Thohir dianggap kontroversial dan memicu perpecahan dalam tubuh PSSI.
Di bawah arahan Shin Tae-yong, Timnas Indonesia berhasil menembus babak round 3 kualifikasi Piala Dunia, menempati posisi tiga dengan hanya terpaut satu poin dari Australia, serta berhasil mengalahkan Arab Saudi, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih pelatih sebelumnya seperti Alfred Riedl, Rahmad Darmawan, Peter Withe, maupun Ivan Kolev. Selain itu, Timnas Indonesia langsung memastikan tiket ke Piala Asia 2027, sebuah sejarah baru bagi sepak bola tanah air.
Prestasi Shin Tae-yong tidak hanya terbatas pada tim senior. Di tingkat usia, ia melampaui pencapaian Indra Sjafrie dan Fakhrie Husaini, menjadi satu-satunya pelatih yang membawa Timnas Indonesia U-23 lolos ke semifinal Piala Asia U-23. Keberhasilan ini merupakan hasil dari metode latihan yang detail, rekayasa pertandingan yang cermat, dan analisis taktik yang matang. Beberapa pundit bahkan menyebut kecermatan Shin Tae-yong hingga mampu “mengintip” taktik lawan, menjadikan timnas selalu siap menghadapi tim-tim besar Asia, kecuali Jepang.
Euforia masyarakat Indonesia terhadap timnas di bawah Shin Tae-yong pun luar biasa. Setiap pertandingan menghadapi lawan-lawan berlabel kuat selalu menarik ribuan penonton, bahkan warga di pelosok negeri mendirikan tenda nobar untuk menyaksikan timnas berlaga. Pola permainan yang atraktif, passing rapi, dan strategi bertahan solid menjadikan timnas tampil menonjol dibanding era sebelumnya.
Namun, keputusan Erick Thohir memecat Shin Tae-yong dan menggantikannya dengan Patrick Kluivert menuai kritik keras. Gaya permainan Kluivert dianggap klasik, mengandalkan crossing dan serangan sayap ala Robben, tanpa visi membelah pertahanan lawan seperti yang diterapkan Shin Tae-yong. Performa sejumlah pemain andalan menurun, termasuk Oratmangoen dan Calvin Verdonk, yang menyebabkan Timnas Indonesia gagal di round 4 kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Timnas U-23 gagal lolos ke Piala Asia.
Masyarakat dan komunitas sepak bola menilai keputusan Thohir memecah konsistensi tim, memicu huru-hara dan protes, termasuk unjuk rasa oleh ultras serta tagar #ETOut di media sosial. Perpecahan di tubuh PSSI semakin santer, terlihat dari perselisihan antara Erick Thohir dan Zainudin Amali serta gesekan di internal Exco PSSI. Bahkan mundurnya manajer Timnas, Sumardji, menjadi bukti dampak buruk dari keputusan ini.
Shin Tae-yong tetap dipandang sebagai pahlawan sepak bola Indonesia karena dedikasi, disiplin, dan inovasi dalam membangun tim yang kompetitif. Ia membuka mata publik bahwa dengan persiapan matang, strategi cerdas, dan disiplin tinggi, Indonesia mampu bersaing di level Asia. Sementara Erick Thohir hingga kini belum memberikan tanggapan atau permintaan maaf atas dampak keputusannya terhadap sepak bola nasional.
“Shin Tae-yong membuktikan bahwa dengan pelatihan tepat dan mental juara, Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara kuat di Asia. Keputusan memecatnya jelas mengecewakan banyak pihak,” ujar seorang pengamat sepak bola nasional.
Kasus ini menegaskan bahwa kepemimpinan dan keputusan manajerial di PSSI memiliki pengaruh besar terhadap prestasi dan semangat sepak bola Indonesia, sekaligus menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi, visi, dan dukungan penuh terhadap pelatih yang terbukti berhasil.***



















